Dari Sekolah Berjalan Kaki Membawa Obor hingga Jadi Walikota, Pesan Bodewin: Jangan Biarkan Keterbatasan Membunuh Cita-Cita

AMBON. Keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih masa depan. Hal itu tergambar dari perjalanan hidup Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena yang sejak kecil harus berjuang keras untuk mendapatkan pendidikan.
Kisah penuh perjuangan tersebut dibagikan Bodewin ketika hadir sebagai tokoh inspirator dan motivator dalam kegiatan kokurikuler penguatan pembelajaran di SMP Negeri 4 Ambon, Kamis (8/10/2026).
Di hadapan para siswa kelas VII, Bodewin menceritakan masa kecilnya di Kampung Siwang, Negeri Urimessing. Ia tumbuh dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai petani, sementara keterbatasan ekonomi membuat dirinya harus menjalani pendidikan dengan berbagai tantangan.
Saat menempuh pendidikan di SD Kristen Seri, Bodewin harus berjalan kaki beberapa kilometer menuju sekolah. Sekitar pukul 05.30 WIT, ia sudah meninggalkan rumah dengan membawa obor sebagai penerang perjalanan. Ketika hari mulai terang, obor tersebut ditinggalkan dan perjalanan menuju sekolah dilanjutkan.
Tidak hanya berjalan kaki, Bodewin sejak kecil juga membantu perekonomian keluarga. Bersama saudara-saudaranya, ia berjualan kue di kawasan Batu Gong sebelum berangkat ke sekolah. Mereka juga mengantarkan es ke pondok-pondok pekerja.
Memasuki jenjang SMP, Bodewin memilih menggunakan sepeda untuk menghemat biaya transportasi. Ketika duduk di bangku SMA, aktivitas berjualan kue masih dilakukannya. Bahkan, ia pernah harus meninggalkan ruang kelas lantaran tidak memiliki buku cetak.
Berbagai pengalaman tersebut, kata Bodewin, justru menjadi bagian penting yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang tangguh.
“Itu yang membentuk karakter, yang membentuk mental bertarung, mental pejuang untuk jadi orang,” ujarnya.
Ada pula sebuah pesan dari masa kecil yang hingga kini tidak pernah dilupakannya. Ketika duduk di kelas V SD dan beberapa kali meraih peringkat, kepala sekolah pernah menyampaikan kepada ibunya bahwa Bodewin suatu saat bisa menjadi Wali Kota Ambon.
Ucapan tersebut kemudian terus diingatkan sang ibu. Setiap kali Bodewin melanjutkan pendidikan, mulai dari SMP, SMA hingga masuk STPDN, pesan itu selalu disampaikan.
“Belajar baik-baik, siapa tahu besok-besok jadi Wali Kota Ambon,” kenangnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Bodewin sempat merasa tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena kondisi ekonomi keluarga. Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk bekerja di perusahaan Batu Gong.
Namun, jalan lain kemudian terbuka. Bodewin mengikuti seleksi STPDN dan berhasil menjadi salah satu dari 35 orang yang diterima pada 1993.
Perjalanan tersebut kemudian mengantarkannya hingga menjadi Wali Kota Ambon. Menurut Bodewin, pencapaian itu bukan semata-mata keberhasilan dirinya, melainkan hasil dari proses panjang yang di dalamnya terdapat doa, pendidikan, kerja keras dan ketekunan.
Karena itu, ia meminta para siswa tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik. Menurutnya, kecerdasan harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter.
“Cerdas secara intelektual didukung dengan karakter yang baik, jalan masa depan terbuka luas,” tegasnya.
Bodewin juga mengingatkan para siswa agar mampu menjaga diri dari berbagai pengaruh buruk di lingkungan sekitar, termasuk narkoba dan perundungan atau bullying.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat pendidikan yang diterapkan SMP Negeri 4 Ambon, yakni membentuk peserta didik yang cerdas, berkarakter, memiliki jiwa Pancasila, sehat secara fisik maupun psikis, serta menjauhi narkoba dan bullying.
Ia mengatakan, Pemerintah Kota Ambon akan terus memberikan perhatian terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Dukungan itu dilakukan melalui penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, penguatan kurikulum, peningkatan kapasitas guru serta keterlibatan komite sekolah.
Namun, seluruh program tersebut pada akhirnya harus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas peserta didik.
Di hadapan para siswa, Bodewin menekankan bahwa karakter tidak terbentuk secara instan. Karakter tumbuh melalui perjalanan hidup, termasuk ketika seseorang menghadapi kesulitan, kegagalan dan berbagai tantangan.
Ia juga membagikan pengalaman ketika masih remaja sebagai anggota vokal grup gereja. Rasa gugup dan kaki yang gemetar ketika harus tampil di hadapan banyak orang menjadi pengalaman yang kemudian melatih keberaniannya untuk berdiri dan berbicara di depan publik.
Dari seluruh kisah tersebut, Bodewin menitipkan satu pesan kepada para siswa SMP Negeri 4 Ambon: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Keadaan boleh sulit, tetapi cita-cita tidak boleh dikalahkan oleh keadaan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kota Ambon Robert Sapulette, Kepala SMP Negeri 4 Ambon, para wakil kepala sekolah, dewan guru, pengurus OSIS serta siswa-siswi kelas VII SMP Negeri 4 Ambon.
