Wawali Tual Minta Rakyat Di Desa Ngadi Hidup Rukun

0
Screenshot_20260403_010351

Tual Beritalaser. Wakil Wali Kota (Wawali) Tual Amir Rumra meminta masyarakat Ohoi (Desa) Ngadi yang terlibat konflik antar warga pekan lalu supaya mengakhiri pertikaian dan kembali hidup rukun antara satu sama lain sebagai sesama ‘orang basudara.’

Permintaan ini disampaikan Petinggi Kota bertajuk ‘Maren’ itu – ketika menghadiri prosesi adat di halaman Balai Ohoi Ngadi, Kecamatan Dullah Utara, Kota Tual, Kamis (8/1/2026).

Dalam kesempatan itu, Amir menyebut prosesi adat menjadi puncak penyelesaian konflik yang dilakukan melalui tiga pendekatan, yakni adat, pemerintahan dan agama, sebagaimana tradisi masyarakat Kei.

“Hari ini adalah puncak dari seluruh pendekatan yang telah dilakukan untuk mengakhiri konflik di Ohoi Ngadi,” kata Amir.

Ia mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Tual bersama TNI dan Polri telah melakukan berbagai langkah untuk memastikan situasi keamanan kembali kondusif. Pemerintah, kata dia, ingin memastikan masyarakat dapat hidup tanpa rasa ketakutan.

“Kami ingin masyarakat hidup aman. Keamanan menjadi hal utama karena tanpa rasa aman, pembangunan dan investasi di Kota Tual tidak akan berjalan maksimal,” ujarnya.

Amir menjelaskan, prosesi adat tersebut merupakan bagian dari penegakan hukum adat Larwul Ngabal.

Pemasangan sasi dan benda adat berupa ‘lela’ atau ‘sadsad’ menjadi simbol larangan terjadinya kembali konflik dan keributan di kemudian hari.

“Tanda adat ini menjadi pesan bagi anak cucu bahwa perselisihan telah diselesaikan dan tidak boleh terulang,” katanya.

Ia juga menyinggung dampak konflik terhadap pembangunan daerah. Menurut Amir, konflik hanya akan menguras energi dan anggaran pemerintah yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat.

“Tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah dalam konflik. Kita semua belajar dari peristiwa tahun 1999, bahwa konflik hanya membawa kerugian,” tegasnya.

Di akhir sambutan, Amir mengajak seluruh warga Ohoi Ngadi kembali hidup rukun dan menjaga falsafah orang Kei yakni ‘Vu’ut Ain Mehe Ngifun, Manut Ain Mehe Tilur’ yang artinya kita berasal dari satu keturunan.

“Mari kita akhiri pertikaian dan kembali hidup sebagai satu keluarga,” harapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *