Pohon Harapan Anak Pengungsi Patahuwe: Ingin Pulang, Bermain dan Berdamai dengan Basudara Lisabata

AMBON, BeritaLaser. Di tengah suasana pengungsian akibat konflik antarkampung Patahuwe dan Lisabata, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), secercah harapan justru muncul dari suara anak-anak.
Bukan tentang konflik, bukan pula tentang pertikaian, melainkan tentang keinginan sederhana untuk kembali ke rumah, bermain dengan tenang dan hidup berdampingan secara damai bersama saudara-saudara mereka.
Harapan itu terlihat dalam kegiatan Psychological First Aid (PFA) yang digelar personel Polisi Wanita (Polwan) Polda Maluku bersama Polwan Polres SBB dan Bagian Psikologi Biro SDM Polda Maluku di tenda pengungsian Desa Patahuwe, Selasa (22/9/2026).
Sebanyak 57 anak, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA, mengikuti kegiatan pendampingan psikologis tersebut. Mereka terdiri dari 10 anak PAUD, 30 siswa SD, 15 siswa SMP dan 2 siswa SMA.
Pendampingan dikemas dalam suasana santai dan menyenangkan melalui kegiatan relaksasi, Brain Gym, Touch for Health serta berbagai permainan. Aktivitas tersebut dilakukan untuk membantu anak-anak mengurangi ketegangan, membangun interaksi positif sekaligus menciptakan rasa nyaman selama berada di pengungsian.
Tak hanya pendampingan psikologis, Polwan juga membagikan makanan ringan kepada anak-anak sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang terdampak konflik.
Namun, ada satu kegiatan yang menjadi bagian paling menyentuh. Anak-anak diminta menuliskan harapan mereka di atas kertas kecil untuk kemudian ditempelkan pada sebuah Pohon Harapan.
Tulisan-tulisan sederhana itu ternyata menyimpan pesan yang begitu dalam.
Salah seorang anak menulis harapan agar perdamaian kembali terwujud antara Patahuwe dan Lisabata.
“Harap saya bisa melihat kita berdamai selalu dengan basudara Lisabata.”
Anak lainnya menuliskan kerinduannya untuk kembali ke kampung halaman, melihat rumahnya dibangun kembali dan hidup bersama dalam suasana damai.
“Harapan dari aku semoga kami semua bisa pulang ke kampung halaman dan semoga rumah kami bisa bangun kembali dan kita semua hidup dengan damai, Amin.”
Pesan-pesan tersebut menjadi gambaran bahwa anak-anak tidak ingin konflik menjadi bagian dari kehidupan mereka. Di tengah pengalaman yang penuh ketidakpastian, mereka masih menyimpan harapan untuk pulang dan kembali menjalani kehidupan secara normal.
Karo SDM Polda Maluku Kombes Pol Dicky Irawan Kesuma, S.I.K., M.Si., mengatakan pendampingan psikologis merupakan bagian dari upaya Polri memberikan perlindungan secara menyeluruh kepada masyarakat terdampak konflik.
Menurutnya, kehadiran Polri tidak sebatas menjaga keamanan, tetapi juga membantu masyarakat, terutama anak-anak, melewati situasi sulit yang mereka alami.
“Polri hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga memastikan masyarakat yang terdampak, khususnya anak-anak, mendapatkan dukungan dan pendampingan agar mereka dapat melewati situasi ini dengan lebih tenang,” ujar Dicky.
Ia menjelaskan, PFA menjadi salah satu bentuk dukungan untuk membantu anak-anak memulihkan rasa aman sekaligus membangun kembali kepercayaan diri mereka.
Dicky juga menilai anak-anak membutuhkan ruang untuk tetap bermain, belajar dan mengekspresikan diri meskipun berada dalam situasi pengungsian.
“Kita ingin anak-anak tetap memiliki ruang untuk bermain, belajar, berekspresi dan menyampaikan harapan. Pesan damai yang mereka tuliskan melalui Pohon Harapan menunjukkan bahwa anak-anak pada dasarnya menginginkan kehidupan yang aman, kembali ke rumah dan hidup berdampingan dengan basudara mereka,” katanya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi, S.I.K., mengatakan kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan konflik tidak hanya menyangkut persoalan keamanan, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan kemanusiaan.
Menurut Rositah, harapan yang ditulis anak-anak menjadi pesan penting bagi seluruh pihak untuk menjaga suasana damai dan tidak membiarkan konflik memberikan dampak berkepanjangan kepada generasi muda.
“Kehadiran Polri di tengah masyarakat terdampak konflik tidak hanya untuk memastikan situasi tetap aman dan kondusif, tetapi juga memberikan dukungan kemanusiaan. Harapan yang ditulis anak-anak Patahuwe menjadi pesan yang sangat berarti bahwa mereka ingin kembali ke rumah, hidup aman dan berdamai dengan basudara mereka,” ujar Rositah.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga situasi yang telah kondusif serta menghindari tindakan yang dapat kembali memicu ketegangan.”
Mari kita jaga anak-anak dari dampak lanjutan konflik. Jangan biarkan mereka mewarisi persoalan orang dewasa. Pesan damai yang disampaikan anak-anak ini harus menjadi semangat bersama untuk menjaga persaudaraan dan menyelesaikan setiap persoalan melalui mekanisme yang aman, damai dan sesuai hukum,” tegasnya.
Rositah menambahkan, Polri bersama para pemangku kepentingan akan terus mengedepankan langkah preventif, humanis dan persuasif, baik dalam menjaga keamanan maupun mendukung proses pemulihan masyarakat terdampak.
Kegiatan PFA kemudian ditutup dengan foto bersama antara personel Polri dan anak-anak pengungsi. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan lancar.
Di tengah tenda pengungsian, sebatang Pohon Harapan akhirnya menjadi lebih dari sekadar tempat menempelkan kertas. Ia menjadi simbol suara anak-anak yang sederhana namun kuat: ingin pulang, ingin bermain, ingin hidup aman dan ingin berdamai dengan basudara.
Pesan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik setiap konflik, ada generasi yang berharap dapat tumbuh tanpa mewarisi luka dan persoalan masa lalu.
