Budi Wiweko: Tekan Kematian Ibu dan Bayi, POGI Ajak Seluruh Elemen Bangsa Bergerak Bersama

0

AMBON, BeritaLaser. Upaya menekan angka kematian ibu dan bayi, mengatasi stunting hingga mencegah kanker serviks membutuhkan keterlibatan semua pihak. Persoalan kesehatan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya oleh tenaga medis, organisasi profesi maupun instansi yang bergerak di sektor kesehatan.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), dr. Budi Wiweko, menekankan pentingnya membangun sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas kesehatan perempuan di Indonesia, termasuk di wilayah kepulauan seperti Maluku.

Penegasan itu disampaikan Budi Wiweko ketika memberikan sambutan dalam acara pelantikan Pengurus POGI Wilayah Maluku periode 2025-2028, yang berlangsung di Lantai 7 Kantor Gubernur Maluku, Sabtu (7/11/2026).

Menurutnya, kondisi geografis Maluku yang terdiri dari banyak pulau menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan pelayanan kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi perempuan. Karena itu, diperlukan dukungan dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan agar pelayanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara merata.

Ia menilai, persoalan kesehatan perempuan tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada tenaga kesehatan. Pemerintah, institusi pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha hingga masyarakat harus mengambil bagian dalam upaya tersebut.

Budi juga memberikan penghargaan kepada para dokter dan jajaran pengurus POGI Maluku yang tetap berkomitmen mengembangkan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan, meskipun harus menghadapi berbagai keterbatasan geografis.

“Membangun kesehatan reproduksi perempuan di Maluku bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kerja sama lintas sektor. Tidak cukup hanya dari bidang kesehatan, tetapi dukungan pemerintah juga sangat penting,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa POGI yang didirikan sejak 1954 kini telah memasuki usia 72 tahun. Selama perjalanan tersebut, organisasi profesi ini terus memperkuat perannya melalui pendidikan, penelitian, pelayanan profesional serta pengabdian kepada masyarakat.

Dengan jumlah anggota mencapai sekitar 5.800 dokter spesialis obstetri dan ginekologi di seluruh Indonesia, POGI memiliki tanggung jawab untuk terus mendorong peningkatan mutu pelayanan kesehatan perempuan.

Budi menegaskan, keberadaan organisasi profesi harus memberikan manfaat nyata, bukan hanya bagi anggotanya, melainkan terutama bagi masyarakat. Perempuan, khususnya mereka yang berada pada usia reproduksi, menjadi kelompok utama yang harus mendapatkan perhatian melalui berbagai program POGI.

Sebagai bentuk komitmen tersebut, POGI menghadirkan gerakan Sprint Selamatkan Perempuan Indonesia, sebuah inisiatif kolaboratif yang diarahkan untuk memperkuat penanganan masalah kesehatan perempuan, mulai dari kanker serviks, kematian ibu, kematian bayi hingga stunting.

Melalui gerakan ini, Budi ingin mengubah cara pandang seluruh pihak agar persoalan kesehatan perempuan tidak lagi dianggap sebagai tanggung jawab satu instansi atau organisasi tertentu, tetapi menjadi agenda bersama bangsa.

“Melalui Sprint, kita ingin mendorong agar kematian ibu, kematian bayi, stunting dan kanker serviks menjadi persoalan kita bersama. Bukan hanya dinas kesehatan, bukan hanya POGI, bukan hanya IBI, melainkan tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia,” tegasnya.

Ia memaparkan, Sprint memiliki sejumlah program prioritas, antara lain memperluas deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan DNA HPV dan vaksinasi HPV.

Program tersebut juga mencakup pendampingan pemenuhan nutrisi bagi perempuan selama masa kehamilan hingga persalinan, edukasi kesehatan reproduksi antargenerasi, pengembangan Sprint Champion sebagai penggerak kesehatan reproduksi, serta peningkatan literasi kesehatan reproduksi dan finansial sejak masa kehamilan hingga menopause.

Menurut Budi, berbagai program tersebut hanya dapat berjalan optimal apabila memperoleh dukungan dari pemerintah, sektor swasta, lembaga legislatif dan seluruh komponen masyarakat. Dengan demikian, Sprint diharapkan berkembang menjadi gerakan nasional yang memberikan manfaat luas.

Ia menyebutkan, POGI telah menjalin komunikasi dan kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk pemerintah pusat dan lembaga terkait, guna mendorong agar program Sprint dapat terintegrasi dalam agenda pembangunan kesehatan nasional.

Dukungan juga datang dari organisasi profesi internasional, di antaranya Japan Society of Obstetrics and Gynecology (JSOG), American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), serta International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) melalui program United for Quality.

Budi berharap, semangat kerja sama tersebut dapat menjadi landasan bagi seluruh jajaran POGI di tingkat wilayah maupun cabang, termasuk POGI Maluku, dalam menyusun dan melaksanakan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa perkembangan dunia kesehatan di era globalisasi menuntut dokter dan organisasi profesi untuk terus beradaptasi. Peningkatan kompetensi, kreativitas, konektivitas, kolaborasi dan komunikasi menjadi faktor penting dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan ke depan.

Namun, ia mengingatkan bahwa kemampuan menyusun berbagai inovasi harus diikuti dengan komitmen serta konsistensi dalam pelaksanaannya.

“Yang paling penting adalah kompetensi, kreativitas, koneksi, kolaborasi dan komunikasi. Kemudian komitmen dan konsistensi. Hanya orang yang bisa konsisten yang mampu memberikan inovasi,” tandasnya.

Melalui kepengurusan baru POGI Wilayah Maluku, Budi berharap kerja sama dengan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat semakin diperkuat. Dengan begitu, pemerataan pelayanan kesehatan reproduksi, pencegahan stunting serta penurunan angka kematian ibu dan bayi dapat diwujudkan secara nyata, hingga menjangkau masyarakat di pulau-pulau terluar Maluku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *