Coding dan AI di Sekolah 3T: Antara Harapan, Keterbatasan, dan Realitas Pendidikan

0
IMG-20260904-WA0026

Oeh: Gerry Ubra, S.Pd., CPSE
Guru SMA Negeri 1 Tual


Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Coding dan Artificial Intelligence (AI) kini semakin sering dibicarakan sebagai bagian penting dari pembelajaran masa depan. Di berbagai sekolah, peserta didik mulai diperkenalkan dengan pemrograman, kecerdasan buatan, robotika, dan berbagai aplikasi digital yang dapat membantu proses belajar.


Namun, ketika kita berbicara tentang implementasi Coding dan AI di sekolah-sekolah wilayah 3T, khususnya Maluku dan Papua, kita perlu berhenti sejenak dan melihat realitas di lapangan. Sebab, pendidikan tidak berlangsung di ruang kosong. Ada sekolah yang memiliki laboratorium komputer lengkap dan akses internet cepat, tetapi ada pula sekolah yang masih menghadapi keterbatasan perangkat, jaringan internet, listrik, bahkan sumber daya manusia.
Di sinilah persoalan sebenarnya dimulai.


Coding dan AI memang merupakan harapan besar bagi pendidikan Indonesia. Keduanya dapat membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, sistematis, dan mampu memecahkan masalah. Coding tidak sekadar mengajarkan bahasa pemrograman, tetapi melatih cara berpikir komputasional. Sementara itu, AI dapat menjadi alat bantu pembelajaran yang membuka akses terhadap pengetahuan secara lebih luas.


Anak-anak di Maluku dan Papua tentu memiliki potensi yang sama untuk menguasai teknologi. Mereka memiliki rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi. Persoalannya bukan apakah mereka mampu belajar Coding dan AI, tetapi apakah mereka memperoleh kesempatan dan fasilitas yang adil untuk mempelajarinya.
Kita tidak boleh membangun kebijakan pendidikan dengan hanya melihat sekolah yang sudah memiliki fasilitas lengkap. Realitas sekolah di wilayah kepulauan sangat berbeda. Jarak antarpulau, keterbatasan transportasi, kualitas jaringan internet yang tidak merata, ketersediaan listrik, perangkat komputer, serta kemampuan guru dalam menguasai teknologi menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan.

Ada kalanya guru sudah memiliki kemauan untuk mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, tetapi perangkat yang tersedia terbatas. Ada pula peserta didik yang memiliki telepon pintar, tetapi tidak selalu memiliki akses internet yang stabil. Dalam kondisi seperti ini, berbicara tentang AI tanpa membicarakan infrastruktur dasar pendidikan akan menghasilkan kesenjangan baru.
Jangan sampai Coding dan AI justru menjadi simbol kesenjangan pendidikan.
Sekolah di kota belajar menggunakan AI secara intensif, sementara sekolah di daerah terpencil masih berjuang mendapatkan jaringan internet. Peserta didik di satu wilayah dapat bereksperimen dengan berbagai platform digital, sedangkan peserta didik di wilayah lain harus bergantian menggunakan satu perangkat untuk satu kelas.


Jika kondisi ini dibiarkan, transformasi digital pendidikan dapat berjalan tidak seimbang. Teknologi yang seharusnya menjadi alat pemerataan justru berpotensi memperlebar jarak antara sekolah yang memiliki fasilitas dan sekolah yang memiliki keterbatasan.
Karena itu, implementasi Coding dan AI di sekolah 3T harus dilakukan secara realistis, bertahap, kontekstual, dan berkeadilan.
Pemerintah tidak cukup hanya menyediakan kurikulum atau memberikan pelatihan kepada guru. Yang dibutuhkan adalah ekosistem pendidikan digital.

Infrastruktur internet dan listrik harus diperkuat. Perangkat pembelajaran perlu disediakan secara bertahap. Guru harus memperoleh pelatihan yang berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan sekolah. Materi pembelajaran juga harus dapat digunakan dalam kondisi internet terbatas atau bahkan tanpa internet.


Yang tidak kalah penting adalah konteks lokal harus menjadi bagian dari pembelajaran teknologi.
Coding dan AI tidak harus selalu diajarkan melalui contoh yang jauh dari kehidupan peserta didik. Anak-anak di Maluku dapat belajar membuat program sederhana berdasarkan persoalan lingkungan pesisir, pengelolaan sampah di pantai, data hasil perikanan, cuaca, transportasi antarpulau, atau potensi energi terbarukan. Dengan demikian, teknologi tidak terasa sebagai sesuatu yang asing, tetapi menjadi alat untuk memahami dan menyelesaikan persoalan yang mereka temui sehari-hari.


AI pun harus diperkenalkan dengan pendekatan yang bertanggung jawab. Peserta didik perlu memahami bahwa AI bukan pengganti guru dan bukan mesin untuk mengerjakan seluruh tugas sekolah. AI seharusnya menjadi alat bantu untuk mencari ide, mengeksplorasi pengetahuan, menganalisis informasi, dan mengembangkan kreativitas. Pada saat yang sama, peserta didik harus tetap memiliki kemampuan berpikir kritis dan mampu memverifikasi informasi.


Pada akhirnya, masa depan pendidikan Indonesia tidak boleh hanya ditentukan oleh sekolah yang memiliki fasilitas terbaik. Anak-anak di pulau-pulau kecil, daerah pegunungan, wilayah pesisir, dan daerah terpencil juga memiliki hak yang sama untuk memasuki dunia digital.
Coding dan AI bukan sekadar tentang teknologi. Ia adalah tentang kesempatan.


Ketika seorang anak di Maluku atau Papua mampu belajar Coding dan menggunakan AI untuk memecahkan masalah di lingkungannya, sesungguhnya kita sedang membuka pintu masa depan baginya. Tetapi pintu itu harus dibuka bersama-sama melalui pemerataan akses, peningkatan kapasitas guru, penyediaan infrastruktur, dan kebijakan pendidikan yang memahami realitas daerah.


Jangan biarkan letak geografis menentukan sejauh mana seorang anak boleh bermimpi.
Teknologi seharusnya menjembatani jarak, bukan menciptakan jarak baru. Coding dan AI harus hadir di sekolah 3T bukan sebagai tuntutan yang membebani, melainkan sebagai kesempatan untuk memberdayakan generasi muda agar mampu berdiri sejajar dengan anak-anak Indonesia lainnya.


Dari Maluku dan Papua, transformasi digital pendidikan dapat tumbuh. Bukan dengan mengabaikan keterbatasan, tetapi dengan mengubah keterbatasan menjadi alasan untuk menghadirkan pendidikan yang lebih adil, inklusif, dan bermakna.


Karena setiap anak, di mana pun ia berada, berhak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berinovasi, dan menentukan masa depannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *