Panelis AIMF 2026, Bodewin Tegaskan Musik sebagai Identitas Budaya dan Masa Depan Ekonomi Kreatif Ambon

0

 

AMBON, BeritaLaser. Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menegaskan bahwa musik bukan sekadar hobi atau hiburan, melainkan bagian penting dari identitas masyarakat sekaligus kekuatan strategis untuk mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Ambon.

Hal tersebut disampaikan Bodewin saat menjadi salah satu panelis dalam diskusi pembukaan Amboina International Music Festival (AIMF) 2026, yang berlangsung di Taman Budaya Karang Panjang, Ambon, Jumat (30/10/2026).

Dalam diskusi tersebut, Bodewin menekankan bahwa pembahasan mengenai Ambon sebagai Kota Musik Dunia tidak boleh berhenti pada aspek musikalitas, kemampuan para musisi, maupun penyelenggaraan berbagai pertunjukan. Lebih dari itu, musik harus memberikan dampak nyata terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan perkembangan kota.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan yang mengemuka dalam diskusi mengenai hubungan antara kota dan musik, yakni bagaimana kreativitas serta industri budaya dapat menjadi jantung pembangunan perkotaan.

Menurut Bodewin, predikat Ambon sebagai Kota Musik Dunia yang ditetapkan UNESCO pada 2019 merupakan hasil perjalanan panjang yang dimulai sejak 2016. Pengakuan internasional tersebut sekaligus menjadi tanggung jawab bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk terus mengembangkan ekosistem musik yang kuat dan berkelanjutan.

Evaluasi pertama atas keanggotaan Ambon dalam jaringan Kota Kreatif UNESCO telah dilalui pada 2025 dengan hasil yang sangat baik. Sementara itu, evaluasi tahap berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 2027.

Karena itu, upaya mempertahankan predikat tersebut membutuhkan komitmen bersama agar musik tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

MUSIK HARUS BERDAMPAK PADA PEREKONOMIAN KOTA

Bodewin menekankan bahwa pengembangan musik harus terintegrasi dengan sektor ekonomi kreatif lainnya. Musik memiliki potensi besar untuk menggerakkan berbagai bidang usaha, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pariwisata, perhotelan, transportasi, hingga kuliner.

Penyelenggaraan festival musik, misalnya, tidak hanya memberikan ruang bagi musisi untuk tampil, tetapi juga berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan, memperpanjang aktivitas ekonomi, serta membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Dengan demikian, keberhasilan Ambon sebagai Kota Musik Dunia tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan musik yang diselenggarakan, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan warga.

Pendekatan ini menuntut adanya kolaborasi antara pemerintah, pelaku seni, komunitas musik, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Sinergi tersebut penting agar musik menjadi bagian dari strategi pembangunan kota yang inklusif dan berkelanjutan.

MEMBANGUN GENERASI MUSIK SEJAK DINI

Selain mendorong dampak ekonomi, pengembangan sumber daya manusia menjadi perhatian penting dalam pembahasan Ambon sebagai Kota Musik Dunia.

Penguatan kemampuan bermusik perlu dimulai sejak usia dini melalui pendidikan, pengenalan musik di sekolah-sekolah, serta pembinaan berkelanjutan di lingkungan komunitas.

Langkah tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi musisi yang tidak hanya memiliki kemampuan artistik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan industri kreatif dan memanfaatkan peluang ekonomi yang tersedia.

Di sisi lain, musik juga mempunyai peran penting dalam memperkuat identitas budaya dan membangun interaksi sosial. Melalui musik, masyarakat dapat mengekspresikan kreativitas, merawat tradisi, serta mempererat persaudaraan di tengah keberagaman.

Oleh sebab itu, pengembangan ekosistem musik perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan pendidikan, kebudayaan, ekonomi, pariwisata, dan kehidupan sosial masyarakat.

Diskusi pembukaan AIMF 2026 tersebut turut menghadirkan sejumlah panelis dari berbagai daerah yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan kota kreatif, di antaranya perwakilan Bappeda Kota Malang, vocal point Kota Ponorogo sebagai Kota Seni dan Kerajinan, serta perwakilan bidang ekonomi kreatif Bappeda Provinsi DKI Jakarta.

Pertemuan tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai bagaimana kreativitas dan industri budaya dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan kota.

Bagi Ambon, momentum ini menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen bersama dalam mengembangkan musik sebagai kekuatan budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Dengan dukungan pemerintah, musisi, komunitas, dunia pendidikan, dan pelaku usaha, Ambon diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan pengakuan UNESCO sebagai Kota Musik Dunia, tetapi juga memastikan bahwa manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *